Wednesday, 4 April 2012

Pulau Jeju

Pulau Jeju


Pulau Jeju (Jeju-do) adalah pulau terbesar di Korea yang berada di sebelah selatan Semenanjung Korea. Pulau Jeju adalah satu-satunya provinsi berotonomi khusus Korea Selatan.Pulau Jeju mempunyai luas 1.845,55 km2,dengan jumlah penduduk sekitar 560.000 jiwa.Pulau Jeju mempunyai situs resmi yaitu, http://www.cyber.jeju.go.kr/
Pulau Jeju terletak di Selat Korea, sebelah barat daya, Provinsi Jeolla Selatan. Ibukota Jeju adalah Kota Jeju (Jeju-si).

Topografi Pulau Jeju terbentuk sekitar 2 juta tahun lalu oleh aktivitas vulkanis. Di tengah-tengah pulau muncul Hallasan (Gunung Halla), gunung tertinggi di seluruh Korea (1.950 m). Pulau ini bercuaca hangat sepanjang tahun dan pada musim dingin jarang turun salju, sehingga tanaman-tanaman yang tumbuh di daerah subtropis bisa bertahan hidup.
Pulau Jeju dijuluki Samdado, "Pulau yang Berlimpah dengan keindahan alam dankebudayaan yang unik, Pulau Jeju adalah salah satu objek wisata paling terkenal di Korea. Dalam catatan sejarah, Jeju disebut dalam berbagai nama, mulai dari DoiDongyeongjuJuhoTammoraSeomnaTangna atau Tamra.
Kota pelabuhan terdekat Jeju dengan daratan utama Korea adalah Mokpo, propinsi Jeolla Selatan. Panjang garis pantai pulau Jeju 253 km, luas keseluruhan 1.825 km². Suhu di Jeju dapat bervariasi, mulai dari tropis sampai subtriopis. Suhu rata-rata per tahunnya adalah 14,6° C dan 4,7° di musim dingin.
Keanekaragaman flora yang tumbuh di Jeju sangat berbeda dengan yang ada di Semenanjung Korea. Karena iklimnya yang baik, pulau ini ditumbuhi lebih dari 1.700 jenis tanaman, sehingga Jeju dijuluki sebagai "Pulau Botani" karena kekayaan floranya.
Selama berabad-abad, penduduk Pulau Jeju dijuluki sebagai yukgoyeok ("enam jenis pekerja keras") yang merujuk kepada warga yang mengerjakan berbagai pekerjaan sulit dan berat untuk hidup, seperti mencari abalon dan kerang dengan cara menyelam ke dasar laut, membangun pelabuhan, beternak, membuat kapal dan bertani. Seringkali mereka diperas demi membayar upeti kepada penguasa di ibukota. Bencana alam seperti kekeringan dan angin topan juga sering mengakibatkan gagal panen dan kelaparan yang memakan banyak korban jiwa.Peristiwa paling kelam dalam sejarah rakyat Jeju adalah insiden berdarah pada periode pembentukan Republik Korea pada tahun 1948 sampai periode Perang Korea (1950-1953) dimana banyak warganya dibantai karena dianggap sebagai sarang pemberontak atau pengikut komunis. Karena mengalami kehidupan yang keras oleh tekanan penguasa, warga Jeju dikenal sebagai orang-orang yang tabah dan mampu bertahan dalam situasi yang sulit. Rakyat Jeju menyatakan tentang kehidupan mereka dengan ungkapan:
“Kebahagiaan itu kecil seperti butir pasir, sementara kesedihan itu sebesar batu karang"


           
                               
SejarahMenurut catatan sejarah Cina kuno, San Guo Zhi, pada abad ke-3 Masehi, Pulau Jeju adalah sebuah kerajaan independen yang bernama Tamra. Pada saat itu Tamra sudah menjalin hubungan dagang dengan Tiga Negara Han di Semenanjung Korea. Dari abad ke-5 sampai 9, Tamra juga menjalin hubungan dagang dengan kerajaan GoguryeoSillaDinasti Tang dan Jepang. Tahun 1105, Tamra diserap dalam teritori Dinasti Goryeopada masa pemerintahan Raja Gojong (bertahta 1215-1259) dan namanya diganti menjadi Jeju ("daerah"). Dengan masuknya Jeju dalam teritori Goryeo, sumber daya alam Jeju diperas demi memberi upeti kepada istana sehingga beberapa kali rakyat Jeju melakukan pemberontakan. Pada tahun 1270, Tiga Polisi Elit (Sambyeolcho) dibantu oleh rakyat Jeju memberontak pada pemerintahan setempat dan penguasa Mongol, namun berhasil dipatahkan.
Para penguasa Mongol memilih Jeju sebagai pangkalan untuk menyerbu ke Jepang. Di pulau ini mereka menternakkan kuda, membuat kapal perang dan mendirikan kuil Buddha bernama Beobhwasa. Pada periode Dinasti Joseon (1392-1910), kaum penguasa memandang Jeju sebagai daerah perbatasan. Rakyat di daratan utama umumnya menganggap Jeju sebagai tempat asing dimana narapidana dibuang atau diasingkan. Pada abad ke-17, Raja Injo bahkan membuat peraturan bahwa rakyat Jeju dilarang pergi ke daratan utama. Peraturan ini bertahan hampir 200 tahun sampai dihapuskannya di abad ke-19. Akibatnya, rakyat Jeju sangat terisolasi dari dunia luar.
Pada saat penjajahan Jepang, rakyat Jeju menderita kelaparan dan kemiskinan. Banyak di antara mereka pindah ke Osaka pada tahun 1923. Selama periode penjajahan, warga Jeju berpartisipasi dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Perlawanan terbesar terjadi antara tahun 1931-1932 di desa-desa nelayan di Kecamatan Gujwa dan Seongsan oleh para penyelam wanita (haenyeo). Pergerakan ini adalah perlawanan terbesar yang pernah dilakukan oleh wanita di Korea. Namun gerakan ini tidak menemui hasil. Setelah penjajahan berakhir, Pulau Jeju berada di bawah pengawasan militer Amerika Serikat. Pada peringatan Pergerakan 1 Maret 1919 tahun 1947, terjadi insiden berdarah yang disebabkan oleh penembakan polisi. Warga Jeju merespon insiden itu dengan mengadakan demonstrasi besar-besaran namun diredam oleh militer Amerika Serikat dengan penangkapan dan pembantaian.
Insiden ini memicu resistensi warga Jeju, terutama dari kaum pemuda yang mulai memberontak dan membangun pertahanan di kaki Gunung Halla. Kelompok ini menolak pembentukan Republik Korea yang dijadwalkan tanggal 10 Mei 1948. Pada tanggal 3 April 1948 mereka menyerang 11 pos polisi di seluruh pulau. Peristiwa ini menandai dimulainya Insiden Tiga April di Pulau Jeju. Setelah penyerangan tersebut, militer Amerika Serikat turun tangan dibantu tentara nasional dalam upaya pembersihan terhadap para pemberontak yang dianggap sebagai simpatisan komunis dengan cara membakar desa-desa di kawasan pegunungan. Upaya pembersihan berlanjut menjadi genosida mulai bulan Agustus 1948 sampai tahun 1949 yang membunuh ribuan orang.
Peristiwa JEJUPeristiwa Jeju (bahasa Korea: 제주 4·3 민중항쟁, Hanja: 濟州 4·3 民衆抗爭) adalah peristiwa pemberontakan yang dimulai pada 3 April 1948 oleh penduduk Pulau Jeju, Korea Selatan yang berada di bawah pendudukan Pemerintah Militer Angkatan Darat Amerika Serikat di Korea. Peristiwa ini melibatkan Pasukan Cadangan Kepolisian Korea Selatan Angkatan Bersenjata Republik Korea, Kepolisian Korea Selatan, dan organisasi pemuda sayap kanan Semenanjung Korea. Pemberontakan berlangsung hingga 21 September 1954 dan disertai serangkaian peristiwa pembantaian massal penduduk Pulau Jeju.

Pihak Pemerintah Korea Selatan mengatakan peristiwa ini sebagai pembersihan Partai Buruh Korea Selatan yang komunis oleh tentara pemerintah dan kepolisian, serta berakibat pada tewasnya satu dari lima penduduk Pulau Jeju atau 60.000 orang sebagai korban pembunuhan massal. Sekitar 70% dari desa-desa di Pulau Jeju terbakar habis. Peristiwa ini juga melatarbelakangi terjadinya Pemberontakan Yeosu-Suncheon.
Latar belakang terjadinya peristiwa JejuJepang menyerah kepada Sekutu dan menandatangani Dokumen Kapitulasi Jepang pada 2 September 1945. Semenanjung Korea diduduki oleh Militer Uni Soviet (Tentara Merah) dan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dan dibagi dua menjadi Korea Utara dan Korea Selatan di garis lintang paralel utara ke-38. Korea Selatan berada di bawah kepemimpinan Presiden Syngman Rhee yang pro-Amerika Serikat. Korea Utara diperintah oleh Partai Buruh Korea Utara di bawah pimpinan partisan anti-Jepang Kim Il-sungKedua belah pihak masing-masing berada di bawah pendudukan militer asing, Korea Selatan diduduki Amerika Serikat, sementara Korea Utara diduduki Uni Soviet. Badan Persiapan Pendirian Negara Korea mendirikan kantor cabang di Jeju pada 10 September 1945, dan tidak lama kantor cabang tersebut diubah namanya menjadi Badan Rakyat Pulau Jeju. Pada 1 Maret 1947, penduduk Pulau Jeju mengadakan unjuk rasa di dalam kota Jeju menuntut penyatuan Semenanjung Korea dan pendirian sebuah negara Korea merdeka dan berdaulat. Unjuk rasa berakhir dengan tewasnya 6 orang penduduk pengikut unjuk rasa akibat tembakan yang dilepaskan aparat kepolisian ke arah massa. Sebagai protes untuk kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian, penduduk Pulau Jeju melakukan pemogokan umum pada 10 Maret 1947. Sebagai reaksi adanya pemogokan umum di Jeju, Kantor Pemerintah Militer Angkatan Darat Amerika Serikat di Korea mengirimkan perwira polisi dan organisasi pemuda sayap kanan yang setiba di Pulau Jeju diduga melakukan teror putih.
Terutama dari luar Pulau Jeju berdatangan anggota organisasi pemuda sayap kanan yang antikomunisme dan Perkumpulan Pemuda Barat Daya yang didukung organisasi kepolisian. Mereka berusaha menghancurkan organisasi para pemberontak di Jeju. Namun, Partai Buruh Korea Selatan justru semakin kuat berkat dukungan penduduk pulau yang merasa tidak puas, dan akhirnya pecah pemberontakan bersenjata yang dilakukan Partai Buruh Korea Selatan dengan berintikan penduduk Pulau Jeju pada 3 April 1948.
Memasuki tahun 1948, pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk mengadakan pemilihan umum tanpa menyertakan Korea Utara. Menjelang berlangsungnya pemilihan umum terjadi pertentangan sengit antara pendukung sayap kiri dan pendukung sayap kanan di Jeju. Penduduk yang mendukung sayap kiri menentang diadakannya pemilihan umum hingga pecah pemberontakan 3 April 1948. Korban di pihak sayap kanan dan pihak kepolisian berjumlah 12 orang, sementara korban di pihak pemberontak bersenjata sebanyak 2 orang.
Pada awal terjadinya pemberontakan, kedua belah pihak berusaha menyelesaikan konflik secara damai lewat perundingan. Namun perundingan damai gagal dan berakhir dengan pertumpahan darah lebih lanjut akibat intervensi militer Amerika Serikat dan gangguan yang dilakukan organisasi pemuda sayap kanan (Perkumpulan Pemuda Barat Daya) yang dibentuk pemuda pelarian dari Pyongan, Korea Utara. Pemberontakan dapat dipadamkan dalam waktu singkat oleh aparat keamanan yang terdiri dari Pasukan Cadangan Kepolisian Korea Selatan (nantinya disebut Angkatan Bersenjata Korea Selatan) dan Kepolisian Korea Selatan, ditambah anggota Perkumpulan Pemuda Barat Daya. Meskipun demikian, sisa-sisa kekuatan dari satuan komando rakyat terus melawan dengan taktik perang gerilya. Sebagai akibatnya, aparat keamanan melakukan pembersihan dan hukuman mati terhadap anggota satuan komando rakyat yang bersembunyi dan penduduk pulau yang bersimpati kepada mereka. Pembersihan terus berlanjut setelah negara Korea Selatan dan Angkatan Bersenjata Korea Selatan didirikan secara resmi pada 15 Agustus 1948Angkatan Bersenjata Korea Selatan menyerang desa-desa tempat tinggal penduduk, menyeret para pemuda dari rumah-rumah untuk dibunuh, dan menculik para gadis-gadis untuk diperkosa beramai-ramai selama berminggu-minggu sebelum akhirnya dibunuh. Kim Il-sung membentuk Angkatan Bersenjata Rakyat Korea pada bulan September 1948, dan selanjutnya mendirikan negara Republik Demokratik Rakyat Korea.
Pada tahun 1950, Partai Buruh Korea Selatan dan Partai Buruh Korea Utara bergabung menjadi satu. Tentara Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) di bawah pimpinan Kim Il-sung menyerang Korea Selatan hingga pecah Perang Korea. Di tengah berlangsungnya perburuan anggota Partai Buruh Korea, hingga 21 September 1954 sejumlah 30.000 orang tewas, dan hingga pemberontakan berhasil dipadamkan sepenuhnya pada tahun 1957 diperkirakan total 80.000 orang penduduk Pulau Jeju tewas akibat pembunuhan massal. Selanjutnya, di daratan Korea Selatan terjadi peristiwa pembunuhan massal Liga Bodo dan pembersihan serupa di penjara-penjara Korea Selatan, sehingga keseluruhannya 1.200 orang diperkirakan tewas. Mayat-mayat korban yang dibuang ke laut dipungut oleh orang Jepang, dan dimakamkan di kuil-kuil Pulau Tsushima.

Pulau Jeju dulunya pernah dipakai sebagai tempat pengasingan orang hukuman membuat orang daratan Korea melakukan diskriminasi terhadap penduduk Pulau Jeju. Meskipun kedatangan mereka waktu itu dicegah oleh Pemerintah Jepang lewat peraturan keimigrasian, penduduk Jeju yang miskin berdatangan ke Jepang untuk mencari nafkah. Sebagian di antara mereka menetap di Jepang, setelah sebelumnya menjadi pendatang gelap. Sekitar 200 ribu orang Korea, sebagian besar kelahiran Pulau Jeju berdatangan ke Jepang setelah Jepang menganeksasi Korea dan semasa penjajahan Jepang di Korea. Setelah Jepang kalah perang, sekitar dua pertiga dari mereka pulang ke Korea. Namun, setelah terjadinya Peristiwa Jeju, penduduk Jeju kembali berdatangan ke Jepang sebagai pengungsi atau masuk ke Jepang secara gelap. Sebagian besar di antara mereka menjadi penduduk tetap yang disebut Zainichi Korea. Orang Jeju yang melarikan diri ke Jepang, sebagian di antara mereka membentuk komunitas di Osaka. Sebelum terjadi Peristiwa Jeju, penduduk Pulau Jeju yang pada tahun 1948 berjumlah 280 ribu orang, menjadi hanya berjumlah kurang dari 30.000 orang pada tahun 1957Meskipun korban di kalangan anggota dan penduduk simpatisan Partai Buruh Korea sangat banyak, tanggung jawab pemerintah diktator militer Korea Selatan waktu itu tidak pernah diusut secara resmi karena sedang menjalankan politik nasional antikomunisme. Selain itu, peristiwa ini dianggap tabu untuk dibicarakan, sehingga rincian peristiwa tidak pernah terungkap dengan jelas. Penelitian kembali sejarah Korea baru dimulai setelah Roh Moo-hyun menjadi Presiden Korea Selatan. Dalam pertemuan ramah tamah dengan penduduk pulau pada Oktober 2003 sehubungan Peristiwa Jeju, Pemerintah Korea Selatan untuk pertama kalinya menyampaikan permintaan maaf. Selain itu, Pemerintah Korea Selatan juga membentuk Komite Nasional Pencari Fakta Peristiwa Jeju mengenai Peristiwa Jeju 3 April. Selanjutnya, Presiden Korea Selatan untuk pertama kalinya menghadiri upacara peringatan korban Peristiwa Jeju yang diadakan pada 3 April 2006, sekaligus secara resmi meminta maaf kepada penduduk Pulau Jeju, dan berjanji untuk mengungkap fakta di balik peristiwa ini.

Orang Korea di Jepang kelahiran Pulau Jeju yang melarikan diri dan menetap di Jepang sebagai pendatang gelap, setelah mengalami sendiri kejadian mengerikan tersebut, sebagian dari mereka tidak berkeinginan pulang ke tanah air, bahkan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian karena "mereka takut mendapat kesulitan lagi". Setelah sikap Pemerintah Korea Selatan mulai berubah dan menunjukkan penyesalan, beberapa di antara mereka, untuk pertama kalinya mengunjungi Korea Selatan setelah 60 tahun menetap di Jepang.

 Obyek Wisata§  Seongsan Ilchulbong atau Puncak Matahari Terbit adalah kawah gunung berapi yang memiliki luas 99.000 m² dan tinggi 182 m di sebelah timur Jeju.
§  Mokseokwon ("Taman Batu dan Kayu"), terletak 4 km di selatan Kota Jeju adalah taman yang memiliki kumpulan batu-batuan berbentuk unik dan akar-akar pohon tua yang sudah mati. Karena keunikannya, taman ini dijadikan sebagai monumen regional Jeju nomor 25.
§  Halla Arboretum (Kebon Raya Halla), tempat pelestarian sebanyak 506 jenis pohon, 90 spesies herbal. Terletak di sebelah barat Puncak Namjosun, selatan Kota Jeju.
§  Manjanggul (Gua Manjang), gua yang terbentuk dari aktivitas gunung berapi. Terletak di Desa Donggimnyeong, Kecamatan Gujwa, Kabupaten Jeju Utara, 30 km timur Kota Jeju. Dikenal akan stalaktit-stalaktit sepanjang 70 cm dan batu-batu dari lahar yang sudah membeku.
§  Kebun Raya Yeomiji, kebon raya terluas di Asia (12.210 m²). Mengkoleksi berbagai jenis tanaman anggrek tropis, dilengkapi dengan observatorium, institut ekologi. Di luarnya terdapat replika taman-taman terkenal.
§  Gelanggang Pacuan Kuda Jeju, didirikan oleh Asosiasi Pacuan Kuda Korea untuk mengembangkan olahraga berkuda di Jeju. Pacuan kuda diadakan seminggu sekali tiap hari Sabtu di tempat ini.
§  Gunung Sanbang (Sanbang-san), terletak di Kabupaten Jeju Selatan
§  Institut Seni Bonsai (Bunjae Artpia), terletak di Desa Jeoji, Kec. Hangyeong, Kab. Jeju Utara. Didirikan tahun 1992, adalah tempat pemeliharaan bonsaikhas Korea.
§  Air Terjun Cheonjeyeon, terletak sebelah barat kota Seogwipo, Kab. Jeju Selatan. Terdiri dari tiga tingkat. Dilengkapi jembatan dan paviliun§  Air Terjun Jeongbang, terletak 1,5 km di tenggara kota Seogwipo, salah satu dari 3 air terjun utama di Jeju. Air terjun Jeongbang langsung bermuara ke laut dan dianggap sebagai salah satu tempat yang pernah dikunjungi .oleh Seo Bok (Xu Fu;徐福), utusan Kaisar Qin Shi Huang (berkuasa 259 SM-210 SM) dalam perjalanan mencari obat panjang umur. Di dinding dekat air terjun terdapat ukiran yang bertuliskan "徐市過此" ("Seobul gwa cha") yang menandakan kunjungan Seobul.§  Oedolgae atau "Batu Kesepian" adalah batu karang setinggi 20 meter yang menonjol di pantai selatan kota Seogwipo.
§  Taman Hallim, di dalamnya termasuk Gua Hyeopjae dan Ssangyong. Taman Hallim dilengkapi dengan kebon raya dan fasilitas rekreasi.
§  Yongduam, bermakna "Batu Kepala Naga", dikarenakan bentuknya mirip kepala naga yang muncul dari air laut. Terletak di wilayah Kota Jeju.
§  Kawah Sangumburi, salah satu dari tiga kawah utama di Jeju. Kawasan yang menjadi tempat konservasi flora, sebanyak 420 jenis spesies tanaman iklim subtropis, sedang dan alpen.
§  Chisatgae, kumpulan bebatuan yang membentuk persegi panjang di sepanjang pantai di Desa Daepo, antara Seogwipo dan Jungmun.
§  Kampung Seongeup, kampung tradisional yang mempertahankan gaya hidup khas rakyat Jeju. Terletak sebelah barat daya Seongsan, Jeju bagian timur.
KulinerKuliner rakyat Jeju sangat berbeda dengan yang ada di daratan utama. Mereka banyak bekerja sebagai nelayan sehingga bahan makanannya kebanyakan adalah hasil dari laut. Orang Jeju gemar mengkonsumsi makanan segar seperti ikan mentah. Hasil utama lain adalah rumput laut, abalon dan buah-buahan. Salah satu masakan Jeju yang paling terkenal adalah Jeonbokjuk, bubur abalon.
Ada banyak fiml drama Korea yang menggunakan pulau Jeju sebagai latar cerita,seperti drama boys before flower,secret garden, dan lain sebagainya.Ada 1drama Korea yang menggambarkan kehidupan di pulau Jeju pada masa lampau,yaitu film The Tamra Island dan duta pulau Jeju untuk saat ini adalah Jay Park atau Jaebum yang terkenal sebagai penyanyi.Salah satu stasiun TV di Korea Selatan mengabarkan bahwa di pulau ini akan dibangun pangkalan angkatan laut korea.Namun pembangunan ini memicu protes keras Kelanjutan konstruksi itu telah memicu protes keras dari berbagai kalangan, karena proyek tersebut telah mengalami kontroversi.Gubernur pulau Jeju, Woo Keun-min telah meminta pemerintah untuk sementara menghentikan konstruksi, tetapi pemerintah pusat menolak hal itu. Para pengunjuk rasa menentang proyek itu dengan dua alasan, yakni demi perdamaian dan lingkungan. Mereka mengatakan pembangunan pangkalan militer di Jeju, yang disebut ‘Pulau perdamaian’, adalah menghancurkan citra pulau. Mereka mengatakan pangkalan juga akan menghancurkan alam murni Jeju yang ditetapkan sebagai situs aset warisan budaya dunia. Pada sisi lain, pemerintah pusat dan militer menekankan keamanan nasional dan nilai-nilai strategis. Mereka mengatakan perairan selatan Jeju memiliki nilai sebagai wilayah strategis dalam segi ekonomi untuk sebagian besar pengangkutan maritim Korea Selatan. Mereka mengatakan daerah itu juga penting secara militer dan kehadiran pangkalan Angkatan Laut di pulau itu tak terelakkan. Para pengamat di bidang pertahanan mengatakan pangkalan Angkatan Laut di pulau Jeju akan terletak di tengah poros segitiga Korea Selatan, Cina dan Jepang. Untuk itu, hal tersebut akan sangat efektif dalam operasi strategis kekuatan Angkatan Laut dalam keadaan kontinjensi. Pemerintah juga mengatakan pangkalan itu harus dibangun dan berjalan untuk mempersiapkan kemungkinan provokasi Korea Utara di sebelah Laut Timur dan Laut Kuning.

0 comments:

Post a Comment